Kometzone's Blog

April 8, 2011

Keberagaman

Filed under: Renungan — kometzone @ 2:22 pm

Kemarin aku diajakin istri nonton film “tanda tanya” by Hanung Bramantyo. Film tentang keberagaman dan toleransi di daerah Pasar Baru, Semarang. Mengangkat kisah nyata di lingkungan yang terdiri dari beberapa keluarga yang berbeda agama namun berdampingan dengan baik. Dari film ini aku jadi teringat tulisan-tulisan dari KH. A. Mustofa Bisri, KH. Abdurrahman Wahid, dan Mario Teguh.

Tulisan KH. A. Mustofa Bisri berjudul “Umat dan Perbedaan” yang di ikhtisarkan sbb:
Sejarah berulang, seiring perjalanan waktu dan berkembangnya jumlah manusia, semakin lama manusia pun kembali banyak yang lupa dan mengabaikan ketentuan-ketentuan Ilahi yang diajarkan melalui nabi-nabi nya. Ketentuan-ketentuan Ilahi yang dibawa nabi-nabi itulah kiranya yang kita istilahkan sebagai agama. Dari sisi lain, ternyata sesuai kehendak Allah, manusia tidak pernah lagi dapat menjadi umat yang satu dan memang tidak dikehendaki demikian. Seandainya Allah menghendaki niscaya dengan mudah manusia akan menjadi satu umat seperti semula.

(Q. 5: 48) “Seandainya Allah menghendaki pasti (dapat dengan mudah) ia menjadikan kamu umat yang satu; tapi Ia hendak menguji kalian tentang apa yang telah Ia berikan kepada kalian, maka berlombalah mencapai kebaikan-kebaikan. Hanya kepada Allahlah tempat kembali kalian semua, lalu Ia menceritakan mengenai apa yang pernah kalian perselisihkan.” (Baca juga misalnya, Q. 11: 118; Q. 16: 93; Q. 42: 8).

Sebenarnya, Allah sudah berkali-kali “menegur” dan “mengingatkan” kita tentang kefitrian perbedaan itu; misalnya dengan hampir selalu terjadi perbedaan dalam penetapan Idul Fitri, dengan banyaknya partai dan selalu munculnya ormas-ormas baru yang nota bene dari kelompok yang sama secara ideologi. Bahkan, kalau kita “cerdas”, sebenarnya Tuhan sudah pernah “memberi pelajaran” yang dahsyat tentang kefitrian perbedaan ini, yaitu saat menganugerahi bangsa ini dengan imam atau presiden Gus Dur yang begitu kontroversial. Padahal, sejak semula bangsa ini mempunyai semboyan Bhinika Tunggal Ika yang menyiratkan kemajemukan dan kesadaran tentang kefitrian perbedaan. Nah, kini saatnya kita “belajar” kembali tentang kefitrian perbedaan itu.

Tulisan KH. Abdurrahman Wahid berjudul “Lain Jaman, Lain Pendekatan” yang di ikhtisarkan sbb:
Kita harus saling mengingatkan, bahwa kita memiliki kewajiban agar apapun perbedaan pendirian kita, kita harus hidup bersama dalam satu ikatan. Bahwa perbedaan demi perbedaan yang ada, seharusnya mendorong munculnya sikap yang arif bijaksana, bukannya sikap yang membuat hubungan yang ada menjadi semakin buruk. Memang pada akhir-akhir ini kita melihat bahwa di lingkungan gerakan-gerakan Islam mulai muncul ‘hal-hal tidak sedap’, seperti munculnya sikap lebih keras di kalangan kaum muslimin, untuk memunculkan ‘kelebihan’ ajaran-ajaran agama Islam di atas berbagai ajaran agama-agama lain. Sebenarnya untuk memenuhi ‘kebutuhan’ akan hal itu, justru diperlukan kearifan untuk menahan diri di kalangan para pemimpin Islam sendiri. Penting memahami rumusan ajaran Islam yang sebenarnya, yaitu “Telah Ku-ciptakan kalian sebagai lelaki dan perempuan, dan Ku-jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa, untuk saling mengenal” (Inna khalaqnakum min dzakarin wa untsa wa ja’alnakum syu’uban wa qabaila li ta’arafu). Dan sikap dasar dari ketentuan Tuhan itu adalah “Dan berpeganglah kepada tali Allah secara keseluruhan, dan jangan terpecah-belah” (wa’tashimubi habli Allah jami’an wa la tafarraqu).

Sikap dasar ini juga merupakan antisipasi terhadap kenyataan akan masa depan agama Islam dan kaum muslimin, seperti telah terbukti dewasa ini yaitu Islam merupakan agama besar, tanpa mengecilkan agama-agama lain. Sikap-sikap keras yang kita lihat masih ada di kalangan kaum muslimin mudah-mudahan akan hilang melalui pendidikan yang lebih baik dan komunikasi yang lebih intens.

Tulisan KH. A. Mustofa Bisri berjudul “Dakwah itu..” yang di ikhtisarkan sbb:
Saya membayangkan, seandainya para Wali Sanga berdakwah tetapi tidak sesuai dengan tuntunan Quran dan Rasulullah, kira-kira apa saya akan mengenal dan mengikuti jalan Allah serta menikmati ajaran Islam yang mulia seperti sekarang ini? Bahkan, umat Islam di negeri kita apakah akan menjadi mayoritas seperti sekarang ini? Alhamdulillah, para dai pendahulu itu -tidak seperti banyak kalangan Islam sekarang ini- begitu sabar, telaten, dan bijaksana dalam berdakwah, mengikuti tuntunan Quran dan Rasulullah SAW. Saya membayangkan, seandainya para wali itu seperti banyak pengajak Islam masa kini yang tidak sabaran dan suka main gasak dan sikat, pastilah kita yang hidup sekarang ini masih belum mengenal Islam, apalagi Allah. Untunglah, yang ditiru para wali itu bukan tokoh-tokoh dunia yang tertindas dan *kaku ati* melihat kezaliman pihak lain yang kuat, tetapi konsisten mengikuti jejak Rasulullah SAW yang arif bijaksana.

Sesuai teladan Rasulullah SAW, mereka mengajak ke jalan Allah dengan bijaksana (bil-hikmah), menasihati dengan baik (bil-mauizhatil hasanah). Bila perlu berbantah, mereka melakukan dengan cara yang lebih baik lagi (billatie hiya ahsan). Bil-hikmah artinya melaksanakan dengan kelembutan dan memperhatikan siapa yang diajak, kemudian menyesuaikan ajakannya dengan kondisi yang diajaknya itu. Bahkan, Allah sendiri ketika mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun mendakwahi Firaun -yang tidak hanya kafir, tapi malah mengaku Tuhan- mewanti-wanti, “Waquulaalahu qaulan layyinan..” (Q. 20: 44) “Berbicaralah kalian berdua kepadanya (Firaun) dengan perkataan yang lemah-lembut“. Idealnya, orang yang mengajak orang lain, sebelumnya sudah mengajak dirinya sendiri. Orang yang mengajak ke agama kasih sayang, tetapi dia sendiri penuh kebencian, tentu saja aneh. (Anehnya, yang bersangkutan sendiri banyak yang justru tidak merasa aneh).

Tulisan dari hasil interview sufinews.com dengan Mario Teguh yang di ikhtisarkan sbb:
Dalam menjalankan tugas (baik sebagai pembicara publik maupun motivator) saya (Mario Teguh; red) menghindari komponen-komponen komunikasi yang terlalu mengindikasikan agama Islam secara formal atau verbal. Buat saya, ketika kita betul-betul dengan sadar sesadarnya mengatakan “ya !” terhadap keberadaan dan keesaan Allah (laa ilaaha illallaah; red) kita tak perlu repot-repot lagi memikirkan label-label formal ketuhanan. Pokoknya terus berlaku jujur, menjaga kerahasiaan klien, menganjurkan yang baik, menghindarkan perilaku, sikap dan pikiran buruk, saya rasa ini semua pilihan orang-orang beriman. Islam itu agama rahmat untuk semesta alam. Maksudnya jadi orang Islam mbok yang betul-betul memayungi (pemeluk) agama-agama lain. Agama kita itu sebagai agama terakhir dan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya. Agama kita puncak kesempurnaan agama. Dan karenanya kita harus tampil sebagai pembawa berita bagi semua. Kita tidak perlu mengunggul-unggulkan agama kita yang memang sudah unggul dihadapan saudara-saudara kita yang tidak seagama dengan kita. Bagaimana Islam bisa dinilai baik kalau kita selaku muslim lalu merendahkan agama (dan pemeluk) agama lain. Tuhan memberi kebebasan manusia untuk memilih diantara ketidaksamaan itu. Saya tidak akan mengatakan bahwa perbedaan itu rahmat, tapi saya akan menunjukkan Windows Operating System yang dikeluarkan Microsoft. Masih ada kan orang yang masih menggunakan Windows 95? Masih ada juga kan orang yang menggunakan Windows 98 atau Windows 2000? (* note: Aku sendiri masih make Windows XP, padahal sekarang sudah ada Windows 7). Begitu juga dengan agama-agama Tuhan, ada versi-versi yang sesuai untuk zamannya, untuk kelengkapan fikiran di zaman itu dan disana ada jenis kemampuan masing-masing orang dalam menyikapinya. Alangkah indahnya kalau semua orang Islam ketika bicara dapat diterima semua pemeluk agama lain.

Berdasarkan pengalaman, pernah beberapa peserta saya mengklaim materi yang baru saja selesai saya sampaikan menurut sudut pandang keyakinan agama mereka. Seorang peserta yang beragama Kristiani mengatakan bahwa materi saya ada juga di ajarkan dalam Injil. Peserta lain yang beragama Islam mengaku bahwa materi yang saya sampaikan ada di Al-Quran surat al-Maidah. Peserta yang Budha menganggap bahwa materi saya itu penerapan dari Dharma-dharma Budha. Saya hanya mengembalikan semua apresiasi itu kepada-Nya. Masih banyak orang yang salah faham terhadap Islam. Ada satu pengalaman yang mengherankan sekaligus membuat saya prihatin.

Dalam satu seminar di acara coffee break isteri saya didatangi salah seorang peserta penganut agama Kristen yang taat. Masih kepada isteri saya, orang itu memberi komentar bahwa saya menerapkan ajaran Injil dengan baik. Lalu dengan lembut, penuh kehati-hatian, isteri saya memberitahu bahwa saya seorang muslim. Sontak orang itu terperanjat saat mengetahui bahwa saya seorang muslim. Yang membuat isteri saya (dan kemudian juga saya) prihatin adalah ucapannya, “Loh, koq ada ya orang Islam yang baik macam Pak Mario?” Saya pun terkekeh mendengarnya. Nah ini kritik dan sekaligus menjadi tugas kita semua untuk memperbaiki citra Islam.

Kesimpulan

Apa yang di ikhtisar diatas hanyalah sebagian kecil masalah keberagaman, tetapi secara pribadi aku mencoba mengerti bahwa perbedaan itu kehendak Allah. Keberagaman itu perlu, karena dengan “beragam” kita dituntut untuk selalu belajar dan mencari tahu kebenaran sehingga didapat keyakinan yang hakiki. Perbedaan itu bukan alasan untuk berselisih, walaupun pada dasarnya “Manusia itu tidak menyukai perbedaan dan bahkan menggangap orang yang berbeda dari dirinya adalah musuh (orang yang salah)”. Mengajak ataupun merespon ajakan dengan sikap keras bukan jalan yang dianjurkan. Di Indonesia, kaum muslim ditakdirkan oleh Allah untuk hidup bersama-sama dengan orang yang berkeyakinan lain. So, apakah kejadian di Negara kita belakangan ini bisa dianggap sebagai politik adu domba bangsa lain yang berarti perjajahan terselubung? Waspadalah… Waspadalah…

July 23, 2009

Arti Peringatan

Filed under: Renungan — kometzone @ 2:48 pm

Kata peringatan diambil daripada perayaan karena lebih bersifat sederhana dan jauh dari sifat glamour dan mewah (menurut aku).  Tulisan ini diturunkan berkenaan dengan renungan diriku dalam masa penyusunan video sebagai kado ulang tahun nya (Happy Birthday Ola).

“Dan kelak, yang paling penting, bukan berapa lama tahun yang kamu lewati. Tetapi, bagaimana kamu menjalani kehidupanmu sepanjang tahun – tahun tersebut.” — Abraham Lincoln

Tradisi memperingati hari ulang tahun bebas dilakukan siapa saja karena hari tersebut dianggap bersejarah dalam hidup kita. Setiap tahun biasanya dirayakan dengan berbagai macam cara tergantung sifat dan keinginan masing – masing. Makna apa yang sesungguhnya diambil dalam setiap ulang tahun yang diperingati? Yang pasti, dengan bertambahnya umur maka usia berkurang dan makin mendekat kepada kematian.

Dalam suatu acara seminar, salah seorang politisi Partai Golkar,  Yusuf Sukardi, menjelaskan lima arti penting dalam memperingati hal yang bersejarah dalam kehidupan kita.
Pertama, peringatan harus merupakan cermin atau neraca perjalanan kehidupan. Artinya, dengan peringatan itu, kita dapat mengambil hikmah atas segala hal yang kita perbuat di masa yang telah lalu.
Kedua, sebagai pembangkit motivasi. Suatu peringatan harus dapat memotivasi agar berbuat lebih baik dan lebih baik lagi, serta tidak terjebak pada kesulitan yang terjadi di masa lampau.
Ketiga, sebagai alat untuk melakukan introspeksi diri.
Keempat, suatu peringatan harus dapat dijadikan titik awal penyusunan rencana selanjutnya yang lebih baik.
Dan terakhir, yang paling penting, yaitu memaknai kehidupan hari esok yang lebih baik.

Seandainya kita mau memaknai hidup ini dengan lebih baik, tentu saja kita bisa merasa bahwa waktu yang diberikan kepada kita dirasakan pendek sehingga kita berusaha untuk selalu terus berbuat baik.

May 30, 2009

Sikap Mengalah

Filed under: Curhat — kometzone @ 9:48 pm

Malam ini seperti biasa saya menelponya lagi, berharap dia sudah tidak marah lagi. Alhamdulillah, dugaan saya benar, ternyata dia sudah baikan lagi.  Obrolan mulai bergulir seperti biasa, tapi dasar lagi PMS kalee, sensinya berlebihan… ketawa bahagia saya diartikannya mungkin sebagai hinaan.
What the hell with my laugh? Is there any mistake? Nonono…  It is just showing that what you are doing for make her happy sometimes will be accepted by her differently.
Yah akhirnya dia marah lagi, seketika itu juga dia menutup telpon dan saya hanya bisa terbengong, menghela napas dan berighstifar seraya sadar bahwa Allah menguji kembali kesabaran dan kedewasaan saya dalam menghadapinya. Sikap mengalah, itulah kuncinya.
Sikap mengalah memang bukanlah sikap yang populer untuk kehidupan kita ini. Justru orang yang mengalah sering dianggap lemah, dianggap sebagai posisi yang diinjak, atau orang yang merugi. Kecenderungan ini mengakibatkan sikap tidak mau mengalah.

Ada beberapa penyebab kita tidak mau mengalah, yaitu:
1. Merasa lebih tahu
Sifat dasar pengetahuan adalah sombong. Pengetahuan sejati bukanlah pengetahuan yang bersifat intelektual atau pengetahuan yang bersifat kognitif (dalam pikiran kita). Orang yang berpengetahuan adalah orang yang Mengerti dan Bijaksana.
2. Merasa berhak
Berhak tidak sakit hati, berhak atas pemahaman kita, dan berhak atas yang lainya. Sebenarnya hak-hak yang paling baik adalah melepaskan hak pribadi untuk kemaslahatan kita bersama.
3. Merasa paling benar
Merasa diri paling benar mengakibatkan kita sangat sulit untuk mengalah, walau kita tahu sebenarnya kita adalah salah.

Sikap saling menyalahkan dan pemaksaan kehendak hanya akan mengakibatkan sakit hati pada kedua belah pihak. Jalan keluar yang rasional dan manusiawi dari perbedaan pendapat atau keinginan justru adalah sikap “mengalah dalam pengertian yang benar”.  Artinya, tidak memaksakan kehendak atau kesukaan diri sendiri, tetapi membiarkan diri mengikuti kehendak orang lain, demi terjadinya perubahan-perubahan rasional dan manusiawi (perbaikan-perbaikan) dalam diri sendiri maupun diri orang lain. Langkah ini memungkinkan terjembataninya perbedaan-perbedaan di antara mereka yang berbeda.
Mengalah juga merupakan pilihan sikap yang dewasa dan bijaksana. Dengan merendahkan hati dan mengalah, mencoba menepis keegoisan dan rasa direndahkan, atau bahkan melepas harga diri tak jarang merupakan jawaban dari rentetan kegalauan dan gejolak hati yang ingin selalu dimenangkan. Saya mencoba berbicara sejenak dengan hati nurani. Apa ruginya sih mengalah? toh hasilnya adalah perdamaian bukan?

“mengalah bukan berarti kalah”

Menjaga Hubungan

Filed under: Curhat — kometzone @ 2:37 am

Disaat malam tiba sebelum tidur, saya sempatkan untuk menelponnya. Hal ini kulakukan agar komunikasi diantara kita tetap terjalin. Banyak hal yang dibicarakan dan banyak juga yang dirasakan. Kadang bahagia, kadang ngangenin, kadang juga ngobrol biasa. Terkadang ngomong berat tapi seringnya ngobrol ringan dan sepele. Tapi terkadang hal sepele itu juga menimbulkan salah pengertian antara saya dan dia.
Misalnya malem ini, saya merasa pertanyaan dan permintaan dalam obrolan saya sewajarnya, tapi dia menganggap saya banyak menuntut dan tidak bisa mengerti dirinya. Saya tahu dia sedang capek, begitu juga saya. Tapi saya tidak sadar (note: maafkan saya) ternyata ucapan-ucapan saya itu dianggap sebagai tuntutan yang berlebihan dan tanpa pengertian. Melihat dari sudut pandangnya tentu memang saya patut disalahkan dan saya harus mengakui apa yang telah saya lakukan adalah hal yang salah. Itulah yang disebut dengan sadar atas kesalahan.
Mengarungi kehidupan tak ubahnya mengarungi samudera, terkadang lautan tenang dan angin sumilir, tetapi terkadang tanpa diduga datang ombak besar.  Bagi orang yang faham sunnatullah laut, maka ia bisa berhitung kapan musim ombak dan kapan musim tenang. Tetapi kehidupan juga sering diungkapkan sebagai “tersandung di jalan rata”, terpeleset oleh “kerikil” kehidupan, dan sebagainya. Walau banyak makan asam garam kehidupan, tetap saja masih dihadang oleh banyak problem.
Disinilah wujud manusia sebagai individu adalah unik. Sekarang kita sedang berusaha mempersatukan dua keunikan, keunikan saya dan keunikannya. Jika keunikan saya dan keunikan dia diusahakan bersatu menjadi sinergi maka diharapkan saat kita sepakat membina rumah tangga (amien), kita mampu mempersepsi stimulus secara proporsional. Tetapi jika dua keunikan itu selalu dianggap bertolak belakang, maka segala hal bisa dipersepsi menjadi prinsipil,  dan meresponya juga dengan sikap prinsipil (sikap yang berpijak pada keunikan masing-masing).  Jika keadaan terbentuk demikian maka pecahlah sebuah hubungan, dan sebagai gantinya adalah kesalahfahaman yang berkesinambungan. Akhirnya hubungan itu tidak lagi menjadi “surga” tetapi menjadi “neraka”.

Semoga kita bisa lebih mengerti dan memaknai apa arti dari sebuah hubungan dan tahu bagaimana bersikap dalam menjaga hubungan itu.

May 27, 2009

Ulang Tahunku

Filed under: Uncategorized — kometzone @ 8:40 pm

Hari ini ulang tahunku, 28 tahun sudah hidupku berlalu begitu saja, tanpa perkembangan hidup yang berarti. Aku harus mulai menyadarkan diri, masih banyak hal yang mesti dikejar, jangan sia-sia kan sisa hidup ini. Ya Allah, Semoga hamba ini selalu berada dalam lindungan-Mu.

March 29, 2009

Nyamanlah Jiwaku

Filed under: Curhat — kometzone @ 11:51 pm

This hymn was written after several traumatic events in Spafford’s life (*menurut wikipedia). Yah, itu judul lagu himne yang biasa dilantunkan umat kristiani yang berarti “Nyamanlah Jiwaku”. Seperti itulah gambaran perasaanku hari ini. Hari ini penantian itu terjawab sudah, akhirnya dia menerimaku. Apapun istilahnya itu, tetapi aku bahagia karenanya. Entah kenapa, tiba-tiba dia menjawabnya. Awalnya aku tidak membayangkan akan secepat ini, bahkan aku cenderung tidak mengharapkan dan tidak mempedulikannya lagi. Yang ada dibenak cuman menjalani apa yang menjadi komitmen awalku. Harapan memang terkadang tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi kenyataan ini ternyata jauh lebih indah dibanding harapan itu. Aku gak tau mesti berkata apa? Yang ada hanya rasa syukur yang berlebih kepada-Nya, kenapa Allah begitu baik kepada diriku yang hina dan sering melupakanNya. Tak terduga, ternyata Allah telah membuka jalan itu jauh lebih cepat dari yang terbayangkan selama ini. Mungkin inilah waktu yang telah digariskan untuk diriku. Hari ini dan saat ini, harapan2 itu menjadi kenyataan disaat yang bersamaan. Mungkin inilah yang orang sebut “Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya.” Aku sadar, jalan didepan masih panjang. Tidak adil rasanya jika aku terhanyut dengan kebahagiaan ini. Terlepas itu semua, aku tetap harus waspada, tidak boleh terlena dengan kejadian hari ini. Dengan begitu, aku akan mudah bangkit dalam keterpurukan. Yang jelas, aku tetap merasa sebagai orang yang beruntung dalam bimbinganNya. Alhamdulillah…

March 1, 2009

Dilema Cinta

Filed under: Cinta — kometzone @ 8:51 pm

Saat Cinta menggoreskan luka, timbulah penyesalan dan kecewa… Lalu ku bertanya, mengapa Cinta itu datang? Mengapa aku terbuai oleh nikmatnya Cinta? Cinta memang berbuah manis dan mengandung racun. Banyak orang mengejar Cinta. Demi Cinta, orang rela berkorban. Yang jelas, perjalanan Cinta tak akan selurus jalan tol kanci ataupun semulus pantat Sandra Dewi :)
Teori cinta adalah pengorbanan, tak peduli pengorbanan itu akan berarti atau sia-sia, yang pasti proses itu telah memberikan arti tersendiri dalam kehidupan penikmatnya. Apa yang dicari dari Cinta? Kebahagiaan? Ketenangan? Atau Kenikmatan? Argh… cinta memang misteri…
Mengapa wanita bisa terbuai oleh rayuan? Mengapa pria mudah tergoda karena kecantikan? Mengapa? Mengapa Cinta dicari kalau bisa menorehkan luka? Mengapa Cinta itu ada bila ternyata berakhir dengan permusuhan? Mengapa Cinta begitu membuai dan membual? Dilema…, bingung harus melanjutkan atau berhenti saja? Bosan…, apakah ini untuk terakhir kali? Sungkan…, haruskah kujawab pertanyaan orang? Jenuh…, kapankan pencarian ini akan berujung? Malas…, bolehkah kuacuhkan ucapan2 itu? Malu…, kepada siapa aku bisa bersembunyi? pada diri sendiri? Bagaimana dengan hasrat batini? *biar kliatan sopan :P
Semoga aku bisa menemukan cinta yang bermakna.

February 20, 2009

Dilema Hati

Filed under: Renungan — kometzone @ 8:49 pm

Sehari setelah kau pergi Aku bisa saja sok tak peduli Seminggu berikutnya kau menghubungiku Aku masih bisa sembunyi di balik senyum palsu  Hari hari berikutnya telah terlewati Kesibukan diri membuat semua jadi basi Bulan bulan itu juga telah berlalu Teman silih berganti menghibur aku  Setahun akhirnya terlewati Beranggap semua teratasi Tapi ternyata cerita belum berakhir Kau mencoba kembali hadir  Aku gak tau maksudnya apa? Dia cuma bertanya apakabarnya? Ternyata dia membawa masalah Tapi dia bisa juga sok berkilah  Sekarang aku telah menyadari Dia datang lagi untuk menutup cerita Mencoba untuk menyakiti hati Membuat diriku akhirnya menderita  betapa hancurnya hatiku .. betapa hancurnya jiwa.. tolong bantu diriku.. melewati ini semua.. puas sudah dirimu.. membuatku serasa dilema.. ucap selamat untukmu.. terima kasih cinta..  na.. na.. na.. ha.. ha.. ha..

January 23, 2009

Menyesal Lagi

Filed under: Curhat — kometzone @ 8:48 pm

Sudah lama rasanya aku tidak menyesal, karena aku mencoba berhati-hati dalam menjalani hidup ini dan tidak ingin mengulangi dan terbelenggu dengan banyaknya kesalahan yang sudah kuperbuat dimasa lampau. Tapi malam ini hal ini terjadi lagi. Aku menyesal? Ya, jahatnya aku telah membuat (Walau secara tidak langsung) seorang yang aku sayangi menangis. Ya, memang bukan aku yang membuat dia menangis, tapi karena kebodohanku yang tidak melihat sikon mengakibatkan dia jadi terkena getahnya. Memang aku tidak bisa disalahkan begitu saja, kenapa? Ya, tentu saja karena aku tidak berada di tempat itu sehingga aku tidak tahu sikon sebenernya disitu. So, apa yang membuatku menyesal? Ya Allah, kenapa kesalahan ini terjadi lagi? Apakah kesombonganku mengakibatkan peringatan ini datang lagi dari yang diatas? Mungkin kah hidup yang kita jalani tanpa penyesalan? Mungkin juga sih, tapi yang jelas aku menyesal lagi. Sepertinya aku harus lebih bijak lagi. Maafkan aku.

January 10, 2009

Embun Pagi

Filed under: Renungan — kometzone @ 8:50 pm

Dia datang menyambut pagi di setiap dedaunan dan bunga-bunga. Dia memberikan kesejukan dan kesegaran bagi dunia ini. Perhatikan dari dekat sebutir embun pagi yang melekat pada sebuah daun, pada akhirnya dia akan jatuh ke tanah dan menghilang. Embun itu seperti merelakan diri untuk jatuh ke tanah, bertemu dengan permukaan yang keras dan berdebu. Embun ini sepertinya mengajarkan kita suatu kearifan untuk hidup bukan dengan logika memiliki tapi dengan mengabdi dan memberi

Next Page »

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.