Kometzone's Blog

May 30, 2009

Sikap Mengalah

Filed under: Curhat — kometzone @ 9:48 pm

Malam ini seperti biasa saya menelponya lagi, berharap dia sudah tidak marah lagi. Alhamdulillah, dugaan saya benar, ternyata dia sudah baikan lagi.  Obrolan mulai bergulir seperti biasa, tapi dasar lagi PMS kalee, sensinya berlebihan… ketawa bahagia saya diartikannya mungkin sebagai hinaan.
What the hell with my laugh? Is there any mistake? Nonono…  It is just showing that what you are doing for make her happy sometimes will be accepted by her differently.
Yah akhirnya dia marah lagi, seketika itu juga dia menutup telpon dan saya hanya bisa terbengong, menghela napas dan berighstifar seraya sadar bahwa Allah menguji kembali kesabaran dan kedewasaan saya dalam menghadapinya. Sikap mengalah, itulah kuncinya.
Sikap mengalah memang bukanlah sikap yang populer untuk kehidupan kita ini. Justru orang yang mengalah sering dianggap lemah, dianggap sebagai posisi yang diinjak, atau orang yang merugi. Kecenderungan ini mengakibatkan sikap tidak mau mengalah.

Ada beberapa penyebab kita tidak mau mengalah, yaitu:
1. Merasa lebih tahu
Sifat dasar pengetahuan adalah sombong. Pengetahuan sejati bukanlah pengetahuan yang bersifat intelektual atau pengetahuan yang bersifat kognitif (dalam pikiran kita). Orang yang berpengetahuan adalah orang yang Mengerti dan Bijaksana.
2. Merasa berhak
Berhak tidak sakit hati, berhak atas pemahaman kita, dan berhak atas yang lainya. Sebenarnya hak-hak yang paling baik adalah melepaskan hak pribadi untuk kemaslahatan kita bersama.
3. Merasa paling benar
Merasa diri paling benar mengakibatkan kita sangat sulit untuk mengalah, walau kita tahu sebenarnya kita adalah salah.

Sikap saling menyalahkan dan pemaksaan kehendak hanya akan mengakibatkan sakit hati pada kedua belah pihak. Jalan keluar yang rasional dan manusiawi dari perbedaan pendapat atau keinginan justru adalah sikap “mengalah dalam pengertian yang benar”.  Artinya, tidak memaksakan kehendak atau kesukaan diri sendiri, tetapi membiarkan diri mengikuti kehendak orang lain, demi terjadinya perubahan-perubahan rasional dan manusiawi (perbaikan-perbaikan) dalam diri sendiri maupun diri orang lain. Langkah ini memungkinkan terjembataninya perbedaan-perbedaan di antara mereka yang berbeda.
Mengalah juga merupakan pilihan sikap yang dewasa dan bijaksana. Dengan merendahkan hati dan mengalah, mencoba menepis keegoisan dan rasa direndahkan, atau bahkan melepas harga diri tak jarang merupakan jawaban dari rentetan kegalauan dan gejolak hati yang ingin selalu dimenangkan. Saya mencoba berbicara sejenak dengan hati nurani. Apa ruginya sih mengalah? toh hasilnya adalah perdamaian bukan?

“mengalah bukan berarti kalah”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: