Kometzone's Blog

April 8, 2011

Keberagaman

Filed under: Renungan — kometzone @ 2:22 pm

Kemarin aku diajakin istri nonton film “tanda tanya” by Hanung Bramantyo. Film tentang keberagaman dan toleransi di daerah Pasar Baru, Semarang. Mengangkat kisah nyata di lingkungan yang terdiri dari beberapa keluarga yang berbeda agama namun berdampingan dengan baik. Dari film ini aku jadi teringat tulisan-tulisan dari KH. A. Mustofa Bisri, KH. Abdurrahman Wahid, dan Mario Teguh.

Tulisan KH. A. Mustofa Bisri berjudul “Umat dan Perbedaan” yang di ikhtisarkan sbb:
Sejarah berulang, seiring perjalanan waktu dan berkembangnya jumlah manusia, semakin lama manusia pun kembali banyak yang lupa dan mengabaikan ketentuan-ketentuan Ilahi yang diajarkan melalui nabi-nabi nya. Ketentuan-ketentuan Ilahi yang dibawa nabi-nabi itulah kiranya yang kita istilahkan sebagai agama. Dari sisi lain, ternyata sesuai kehendak Allah, manusia tidak pernah lagi dapat menjadi umat yang satu dan memang tidak dikehendaki demikian. Seandainya Allah menghendaki niscaya dengan mudah manusia akan menjadi satu umat seperti semula.

(Q. 5: 48) “Seandainya Allah menghendaki pasti (dapat dengan mudah) ia menjadikan kamu umat yang satu; tapi Ia hendak menguji kalian tentang apa yang telah Ia berikan kepada kalian, maka berlombalah mencapai kebaikan-kebaikan. Hanya kepada Allahlah tempat kembali kalian semua, lalu Ia menceritakan mengenai apa yang pernah kalian perselisihkan.” (Baca juga misalnya, Q. 11: 118; Q. 16: 93; Q. 42: 8).

Sebenarnya, Allah sudah berkali-kali “menegur” dan “mengingatkan” kita tentang kefitrian perbedaan itu; misalnya dengan hampir selalu terjadi perbedaan dalam penetapan Idul Fitri, dengan banyaknya partai dan selalu munculnya ormas-ormas baru yang nota bene dari kelompok yang sama secara ideologi. Bahkan, kalau kita “cerdas”, sebenarnya Tuhan sudah pernah “memberi pelajaran” yang dahsyat tentang kefitrian perbedaan ini, yaitu saat menganugerahi bangsa ini dengan imam atau presiden Gus Dur yang begitu kontroversial. Padahal, sejak semula bangsa ini mempunyai semboyan Bhinika Tunggal Ika yang menyiratkan kemajemukan dan kesadaran tentang kefitrian perbedaan. Nah, kini saatnya kita “belajar” kembali tentang kefitrian perbedaan itu.

Tulisan KH. Abdurrahman Wahid berjudul “Lain Jaman, Lain Pendekatan” yang di ikhtisarkan sbb:
Kita harus saling mengingatkan, bahwa kita memiliki kewajiban agar apapun perbedaan pendirian kita, kita harus hidup bersama dalam satu ikatan. Bahwa perbedaan demi perbedaan yang ada, seharusnya mendorong munculnya sikap yang arif bijaksana, bukannya sikap yang membuat hubungan yang ada menjadi semakin buruk. Memang pada akhir-akhir ini kita melihat bahwa di lingkungan gerakan-gerakan Islam mulai muncul ‘hal-hal tidak sedap’, seperti munculnya sikap lebih keras di kalangan kaum muslimin, untuk memunculkan ‘kelebihan’ ajaran-ajaran agama Islam di atas berbagai ajaran agama-agama lain. Sebenarnya untuk memenuhi ‘kebutuhan’ akan hal itu, justru diperlukan kearifan untuk menahan diri di kalangan para pemimpin Islam sendiri. Penting memahami rumusan ajaran Islam yang sebenarnya, yaitu “Telah Ku-ciptakan kalian sebagai lelaki dan perempuan, dan Ku-jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa, untuk saling mengenal” (Inna khalaqnakum min dzakarin wa untsa wa ja’alnakum syu’uban wa qabaila li ta’arafu). Dan sikap dasar dari ketentuan Tuhan itu adalah “Dan berpeganglah kepada tali Allah secara keseluruhan, dan jangan terpecah-belah” (wa’tashimubi habli Allah jami’an wa la tafarraqu).

Sikap dasar ini juga merupakan antisipasi terhadap kenyataan akan masa depan agama Islam dan kaum muslimin, seperti telah terbukti dewasa ini yaitu Islam merupakan agama besar, tanpa mengecilkan agama-agama lain. Sikap-sikap keras yang kita lihat masih ada di kalangan kaum muslimin mudah-mudahan akan hilang melalui pendidikan yang lebih baik dan komunikasi yang lebih intens.

Tulisan KH. A. Mustofa Bisri berjudul “Dakwah itu..” yang di ikhtisarkan sbb:
Saya membayangkan, seandainya para Wali Sanga berdakwah tetapi tidak sesuai dengan tuntunan Quran dan Rasulullah, kira-kira apa saya akan mengenal dan mengikuti jalan Allah serta menikmati ajaran Islam yang mulia seperti sekarang ini? Bahkan, umat Islam di negeri kita apakah akan menjadi mayoritas seperti sekarang ini? Alhamdulillah, para dai pendahulu itu -tidak seperti banyak kalangan Islam sekarang ini- begitu sabar, telaten, dan bijaksana dalam berdakwah, mengikuti tuntunan Quran dan Rasulullah SAW. Saya membayangkan, seandainya para wali itu seperti banyak pengajak Islam masa kini yang tidak sabaran dan suka main gasak dan sikat, pastilah kita yang hidup sekarang ini masih belum mengenal Islam, apalagi Allah. Untunglah, yang ditiru para wali itu bukan tokoh-tokoh dunia yang tertindas dan *kaku ati* melihat kezaliman pihak lain yang kuat, tetapi konsisten mengikuti jejak Rasulullah SAW yang arif bijaksana.

Sesuai teladan Rasulullah SAW, mereka mengajak ke jalan Allah dengan bijaksana (bil-hikmah), menasihati dengan baik (bil-mauizhatil hasanah). Bila perlu berbantah, mereka melakukan dengan cara yang lebih baik lagi (billatie hiya ahsan). Bil-hikmah artinya melaksanakan dengan kelembutan dan memperhatikan siapa yang diajak, kemudian menyesuaikan ajakannya dengan kondisi yang diajaknya itu. Bahkan, Allah sendiri ketika mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun mendakwahi Firaun -yang tidak hanya kafir, tapi malah mengaku Tuhan- mewanti-wanti, “Waquulaalahu qaulan layyinan..” (Q. 20: 44) “Berbicaralah kalian berdua kepadanya (Firaun) dengan perkataan yang lemah-lembut“. Idealnya, orang yang mengajak orang lain, sebelumnya sudah mengajak dirinya sendiri. Orang yang mengajak ke agama kasih sayang, tetapi dia sendiri penuh kebencian, tentu saja aneh. (Anehnya, yang bersangkutan sendiri banyak yang justru tidak merasa aneh).

Tulisan dari hasil interview sufinews.com dengan Mario Teguh yang di ikhtisarkan sbb:
Dalam menjalankan tugas (baik sebagai pembicara publik maupun motivator) saya (Mario Teguh; red) menghindari komponen-komponen komunikasi yang terlalu mengindikasikan agama Islam secara formal atau verbal. Buat saya, ketika kita betul-betul dengan sadar sesadarnya mengatakan “ya !” terhadap keberadaan dan keesaan Allah (laa ilaaha illallaah; red) kita tak perlu repot-repot lagi memikirkan label-label formal ketuhanan. Pokoknya terus berlaku jujur, menjaga kerahasiaan klien, menganjurkan yang baik, menghindarkan perilaku, sikap dan pikiran buruk, saya rasa ini semua pilihan orang-orang beriman. Islam itu agama rahmat untuk semesta alam. Maksudnya jadi orang Islam mbok yang betul-betul memayungi (pemeluk) agama-agama lain. Agama kita itu sebagai agama terakhir dan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya. Agama kita puncak kesempurnaan agama. Dan karenanya kita harus tampil sebagai pembawa berita bagi semua. Kita tidak perlu mengunggul-unggulkan agama kita yang memang sudah unggul dihadapan saudara-saudara kita yang tidak seagama dengan kita. Bagaimana Islam bisa dinilai baik kalau kita selaku muslim lalu merendahkan agama (dan pemeluk) agama lain. Tuhan memberi kebebasan manusia untuk memilih diantara ketidaksamaan itu. Saya tidak akan mengatakan bahwa perbedaan itu rahmat, tapi saya akan menunjukkan Windows Operating System yang dikeluarkan Microsoft. Masih ada kan orang yang masih menggunakan Windows 95? Masih ada juga kan orang yang menggunakan Windows 98 atau Windows 2000? (* note: Aku sendiri masih make Windows XP, padahal sekarang sudah ada Windows 7). Begitu juga dengan agama-agama Tuhan, ada versi-versi yang sesuai untuk zamannya, untuk kelengkapan fikiran di zaman itu dan disana ada jenis kemampuan masing-masing orang dalam menyikapinya. Alangkah indahnya kalau semua orang Islam ketika bicara dapat diterima semua pemeluk agama lain.

Berdasarkan pengalaman, pernah beberapa peserta saya mengklaim materi yang baru saja selesai saya sampaikan menurut sudut pandang keyakinan agama mereka. Seorang peserta yang beragama Kristiani mengatakan bahwa materi saya ada juga di ajarkan dalam Injil. Peserta lain yang beragama Islam mengaku bahwa materi yang saya sampaikan ada di Al-Quran surat al-Maidah. Peserta yang Budha menganggap bahwa materi saya itu penerapan dari Dharma-dharma Budha. Saya hanya mengembalikan semua apresiasi itu kepada-Nya. Masih banyak orang yang salah faham terhadap Islam. Ada satu pengalaman yang mengherankan sekaligus membuat saya prihatin.

Dalam satu seminar di acara coffee break isteri saya didatangi salah seorang peserta penganut agama Kristen yang taat. Masih kepada isteri saya, orang itu memberi komentar bahwa saya menerapkan ajaran Injil dengan baik. Lalu dengan lembut, penuh kehati-hatian, isteri saya memberitahu bahwa saya seorang muslim. Sontak orang itu terperanjat saat mengetahui bahwa saya seorang muslim. Yang membuat isteri saya (dan kemudian juga saya) prihatin adalah ucapannya, “Loh, koq ada ya orang Islam yang baik macam Pak Mario?” Saya pun terkekeh mendengarnya. Nah ini kritik dan sekaligus menjadi tugas kita semua untuk memperbaiki citra Islam.

Kesimpulan

Apa yang di ikhtisar diatas hanyalah sebagian kecil masalah keberagaman, tetapi secara pribadi aku mencoba mengerti bahwa perbedaan itu kehendak Allah. Keberagaman itu perlu, karena dengan “beragam” kita dituntut untuk selalu belajar dan mencari tahu kebenaran sehingga didapat keyakinan yang hakiki. Perbedaan itu bukan alasan untuk berselisih, walaupun pada dasarnya “Manusia itu tidak menyukai perbedaan dan bahkan menggangap orang yang berbeda dari dirinya adalah musuh (orang yang salah)”. Mengajak ataupun merespon ajakan dengan sikap keras bukan jalan yang dianjurkan. Di Indonesia, kaum muslim ditakdirkan oleh Allah untuk hidup bersama-sama dengan orang yang berkeyakinan lain. So, apakah kejadian di Negara kita belakangan ini bisa dianggap sebagai politik adu domba bangsa lain yang berarti perjajahan terselubung? Waspadalah… Waspadalah…

Create a free website or blog at WordPress.com.