Kometzone's Blog

May 16, 2013

Rayon Spandex dan perawatannya

Filed under: Fashion — kometzone @ 3:37 pm

Rayon Spandex adalah jenis kain yang proses pembuatannya menggunakan teknik blended dimana kain ini merupakan perpaduan antara serat rayon dan serat spandex.

Pada awalnya, MISLA ingin mengeluarkan produk basic series dengan bahan yang lebih halus dan kualitas yang lebih bagus dibanding produk basic yang ada dipasaran saat ini. Setelah mempelajari berbagai macam karakteristik serat, MISLA menginginkan bahan tersebut berkarakteristik Rayon dan bisa meregang. Pilihan jatuh kepada Bahan dengan jenis Rayon Spandex karena karakteristik dari Serat Rayon dan Serat Spandex yang sangat luar biasa. Setelah survey di banyak toko kain di tanah abang, cipadu, dan mayestik, MISLA memilih bahan Rayon Spandex jenis premium/super yang memiliki komposisi serat Rayon 95% dan serat Spandex 5%. Iya, Spandex 5% sudah lebih dari cukup untuk estimasi peregangan yang dibutuhkan dari produk MISLA ini.

Setiap produk dengan kualitas yang bagus pasti membutuhkan perawatan yang lebih extra ordinary dibanding produk biasa. Karena bahan yang digunakan sangat halus, perawatan bahan ini berbeda dari bahan biasa agar lebih tahan lama dan tetap nyaman digunakan. Berikut tips perawatan pakaian berbahan rayon terutama rayon spandex yang diintisarikan How to Wash Rayon | eHow dan How to Care for Rayon and Spandex Clothes | eHow sbb:
a. Sebaiknya pakaian dibersihkan dengan dry clean saja.
b. Kalaupun dicuci sebaiknya menggunakan tangan (Jika terpaksa, bisa pakai mesin cuci asal menggunakan air dingin dan tipe pencucian yang paling lembut atau kering)
c. Tangani dengan hati hati, jangan meremas terlalu kuat apalagi menyikatnya. Jangan meremas atau memutar bersamaan dengan sekelompok bahan lain apalagi bahan yang kasar seperti denim.
d. Rayon Spandex tidak boleh ditempatkan dalam pengering. Bahan ini akan kehilangan kekuatannya untuk meregang dan mengecil setelah dicuci dan ditempatkan dalam pengering karena pengering sifatnya menarik dan menjatuhkan bahan berulang kali.
e. Jika menggunakan bahan pemutih saat membersihkan rayon, itu harus non-klorin karena karakteristik bahan yang berpori (permeable) dapat dipengaruhi oleh pemutih dan menghasilkan sedikit perubahan warna.
f. Karena sifat rayon yang bernapas (breathable), maka akan cepat kering sendiri.
g. Kalaupun ingin dijemur, usahakan tidak terkena sinar matahari langsung.
h. Untuk penjemuran bisa digantung pada gantungan plastik atau gantungan kering yang empuk. Gantungan kawat akan meninggalkan bintik-bintik karat pada bahan. Gantungan yang keras bisa membuat baju kehilangan bentuknya, sebaiknya dikeringkan dengan datar.
i. Pengeringan terbaik adalah mengunakan rak pengering.
j. Kain rayon tidak mudah keriput, tetapi dapat juga disetrika dengan tingkat panas yang rendah dan dari sisi bagian dalam saja.
k. Jika harus menyetrika di sisi luar, sebaiknya tutupi dulu dengan kain lain sehingga rayon sisi luar tidak bersentuhan langsung dengan setrika.

Demikian tips perawatan pakaian dengan bahan Rayon/Rayon Spandex, semoga informasinya bermanfaat dan membuat kita lebih peduli terhadap pakaian yang kita miliki.

Serat Spandex

Filed under: Fashion — kometzone @ 1:08 pm

Melanjutkan lagi tulisan sebelumnya mengenai “Mengenal kain“ dan “Bahan Rayon (Rayon Fabric)”, berikut aku akan membahas salah satu jenis serat kain lainnya yaitu Spandex.

Menurut Wikipedia, Spandex atau elastane adalah serat sintetis yang dikenal sangat elastis. Serat spandex ini kuat, tapi kurang tahan lama dibandingkan pesaing utama yang non-sintetis yaitu natural latex. Serat Spandex adalah kopolimer poliuretan-polyurea yang diciptakan pada tahun 1959 oleh kimiawan CL Sandquist dan Joseph Shivers di DuPont Benger Laboratory di Waynesboro, Virginia. Ketika pertama kali diperkenalkan, spandex merevolusi berbagai bidang industri pakaian.

Menurut Teonline, Spandex ini ringan, lembut, kuat dan sangat elastis. Bahkan, serat Spandex dikembangkan sebagai alternatif untuk karet namun memiliki kualitas yang lebih baik daripada itu. Nama Lycra juga telah datang untuk menjadi sinonim dari Spandex. Lycra adalah merek dagang yang sangat populer sehingga semua jenis spandex disebut sebagai Lycra. Karena daya tahan dan stretchability, Spandex banyak digunakan untuk membuat pakaian olahraga dan pakaian kerja, khususnya untuk pekerja pabrik. Pakaian dari bahan ini seperti kulit kedua bagi pekerja yang terlibat dalam pekerjaan beresiko seperi operator mesin.

Karakteristik Spandex

Karakteristik paling signifikan dari Spandex adalah stretchability (kemampuan merentang/melonggaar) nya. Spandex ini dapat ditarik menjadi panjang dan besar dan kemudian dapat pulih dengan cepat ke bentuk aslinya. Spandex ini kenyataannya dapat ditarik ke hampir 500% dari panjangnya. Spandex ini ringan, halus, lembut dan lebih tahan lama dan memiliki kemampuan retractive (daya tarik/melar) lebih baik dari karet. Dengan demikian, ketika Spandex digunakan untuk membuat pakaian apapun, pakaian ini menjadi paling cocok, nyaman dan juga mencegah pengenduran dari garmen. Spandex ini juga heat-settable yang berarti memiliki kemampuan untuk berubah dari kain yang berkerut menjadi kain yang datar, atau kain datar menjadi bentuk bulat permanen. Serat Spandex dapat melawan kerusakan akibat dari minyak tubuh, keringat, lotion atau deterjen. Kain ini juga tahan abrasi.

Karakteristik Spandex diatas dan karakteristik Rayon yang dijelaskan pada Bahan Rayon inilah yang membuat MISLA memutuskan untuk menggunakan bahan blended berupa rayon spandex untuk MISLA Basic Series nya.

Bahan Rayon (Rayon Fabric)

Filed under: Fashion — kometzone @ 12:23 pm

Melanjutkan tulisan sebelumnya mengenai “Mengenal kain“, berikut aku akan membahas salah satu jenis serat kain yaitu rayon.

Rayon adalah kain sintetis pertama yang pernah dibuat. Bahan ini dikembangkan sebagai alternatif yang lebih murah untuk kain sutra, maka rayon juga dijuluki sutra buatan. Saat ini rayon lebih banyak diproduksi daripada kain sintetis lainnya.

Rayon dipatenkan pada tahun 1892 oleh ahli kimia Inggris Cross, Bevan, dan Beadle. Tapi penamaannya dibuat oleh Kenneth Lord, Senior yang memenangkan kompetisi untuk nama kain sutra buatan pada tahun 1924. Menurut Wikipedia, Rayon dibuat dari serat hasil regenerasi selulosa dari bubur kayu atau bahan tanaman. Serat yang dijadikan benang rayon berasal dari polimer organik, sehingga disebut serat semisintesis karena tidak bisa digolongkan sebagai serat sintetis atau serat alami yang sesungguhnya. Dalam industri tekstil, kain rayon dikenal dengan nama rayon viskosa atau sutra buatan. Kain ini biasanya terlihat berkilau dan tidak mudah kusut. Serat rayon memiliki unsur kimia karbon, hidrogen, dan oksigen. Asal-usul Rayon yang natural memberikan beberapa kesamaan dengan kain yang dibuat dari tumbuh-tumbuhan, seperti katun dan linen.

Berikut akan dijelaskan karakteristik dari bahan rayon yang diterjemahkan dari Characteristics of Rayon Fabric | eHow

Karakteristik bahan rayon

1. Permeable (Berpori)
Karena serat rayon berpori maka mudah menyerap, setiap pewarna yang ditambahkan ke kain akan mudah ditampilkan. Rayon adalah bahan yang sangat lembut sehingga menjadi pilihan yang lebih disukai oleh mereka yang mencari pakaian yang nyaman. Materi yang bisa menyerap kelembaban dan bahkan lebih efisien daripada kapas. Hal ini memungkinkan keringat seseorang diserap oleh bahan dan menguap keluar di saat panas sehingga pemakainya merasa lebih dingin daripada jika memakai jenis bahan lainnya.

2. Breathable (Bernapas)
Serat tipis Rayon memiliki kemampuan untuk bernapas lebih dari kain lainnya, yang membuatnya menjadi pilihan yang baik untuk desain pakaian olahraga dan sundresses yang diharapkan dapat memberikan kesejukan dan kenyamanan. Ini adalah kain ringan yang tidak melekat pada tubuh, melainkan memberi ruang nyaman yang memungkinkan udara dingin masuk ke dalam.

3. Flowing(Mengalir)
Rayon banyak digunakan untuk kemeja, pakaian, dan bahkan seprai dan gorden karena memiliki kualitas untuk drape flowingly and elegantly di atas tubuh seseorang atau batang tirai. Wanita menyukai mengenakan gaun atau rok rayon karena kain rayon tidak mengganggu dan tidak melekat pada tubuh.

4. Versatile (Serbaguna)
Bahan pakaian tidak selalu terbuat dari 100% rayon. Serat rayon sering digabungkan dengan serat jenis lain untuk membuat kain yang disebut Blended (lihat “Mengenal kain“). Rayon biasanya dicampur dengan kapas, wol, sutra, poliester, dan akrilik. Ketika dikombinasikan, produk akhir akan memiliki karakteristik berdasarkan kedua serat yang dicampur.

5. Flammable(Mudah Terbakar)
Setelah beberapa baju berbahan rayon terbakar pada tahun 1950, Departemen Perdagangan AS bereaksi dengan menciptakan UU Kain yang mudah terbakar. Hal ini mendorong perubahan dalam industri tekstil. Saat ini rayon jauh lebih aman untuk digunakan, karena bahan kimia yang ditambahkan membuatnya tidak mudah terbakar.

6. Delicate (Halus)
Pengguna harus menghindari goresan terhadap rayon, dan memeriksa setiap tag pakaian untuk instruksi pembersihan. Tag biasanya mengatakan “to dry clean only, hand wash or machine wash in cold water on delicate cycle, and line or flat dry”.

Karakteristik bahan seperti inilah yang membuat MISLA sering menggunakan bahan rayon untuk koleksi nya termasuk MISLA Basic Series yang menggunakan bahan Rayon Spandex.

May 8, 2013

Mengenal kain

Filed under: Fashion — kometzone @ 3:12 pm

Kali ini aku mo ngebahas kain atau bahan baju… hahaha… emang masalah buat elo? :p
Iya, pembahasan ini diterjemahkan dan diintisarikan dari e-book Understanding_Fabrics_Guide.

Apa itu kain?
Kata “tekstil” berasal dari bahasa Latin texere (untuk menenun). Ini berarti awalnya kain dibuat dari serat anyaman. Saat ini, seluruh produksi kain disebut “tekstil” termasuk kain yang diproduksi dengan felting, weaving, knitting, dan knotting.

Bagaimana kain dibuat?
Ada beberapa cara dalam proses pembuatan kain.

1. Felting
Felting adalah salah satu proses pembuatan kain tertua. Felting adalah kain non-woven yang diproduksi dengan proses anyaman, kondensasi dan menekan serat wol. Serat wol umumnya digunakan dalam proses pembuatan kain ini.
kain felting

2. Woven
Kain ini di buat dari hasil penyilangan dua benang dengan cara di dianyam. Bahan woven cirinya tidak dapat di tarik.
kain woven

3. Weaving
Weaving adalah metode produksi kain dengan 2 set cara tenun yang berbeda dari benang atau jalinan benang di sudut dalam membentuk kain. Benang-benang memanjang disebut warp dan benang cabangan untuk mengisi. Metode pengisian benang tersebut mempengaruhi karakteristik dari kain.
Plain WeaveSatin Weave
———Plain Weave————Satin Weave—
Type of weaving.
Ada 3 jenis tenun dasar yaitu: plain, twill, and satin. Ketiga jenis ini merupakan tenun biaxial atau tenun yang terbuat dari dua set benang. Sedangkan untuk variasi tenun lainnya merupakan kombinasi dari 3 jenis tenun dasar ini.
3.1 Plain Weave
Tenunan polos adalah yang paling sederhana dan paling murah. Sebuah benang berjalan di atas satu benang dan di bawah pada benang berikutnya.
3.2 Twill Weave
Dasar menenun kedua adalah tenunan kepar. Benang berjalan pada setiap 2 atau lebih benang secara regular sehingga menciptakan pola diagonal. Sebuah garis diagonal, juga disebut garis kepar atau wale terlihat di kain jadi. Kepar tahan lama dan juga drapes well. Hal ini membuat twills ideal untuk tirai serta pakaian. Blue jeans juga merupakan sebuah tenunan kepar yang terbuat dari kain yang disebut denim. Denim jeans biru dibuat dengan katun warp biru dan benang putih yang mengisinya.
3.3 Satin Weave
Dasar menenun ketiga adalah menenun satin. Setiap benang menyilang empat atau lebih pada benang lainnya sebelum jalan di bawah benang yang lainnya lagi. Jarak benang yang panjang biasa disebut “float”. Karena “float” yang panjang dan putarannnya rendah membuat tenunan satin terlihat datar, halus, dan berkilau. Tapi “float” yang panjang juga membuat kain rentan untuk tersangkut dan tertarik.
3.4 Triaxial Weave
Tenunan yang lebih kompleks adalah menenun triaxial. Di sini, benang berjalan dalam tiga arah. Selain warp dan pakan, set ketiga disebut whug. Whug dapat dianggap sebagai kumpulan benang kedua, yang memperkuat kain. Tenun triaxial stabil di segala penjuru, dan digunakan untuk produk industri seperti balon dan layar.

4. Knitting
Kebanyakan kain di tenun, tetapi kain rajutan juga umum. Knitting adalah menyambung atau mempautkan benang sehingga membentuk kain. Dalam tenun, benang selalu lurus, berjalan sejajar baik memanjang (warp threads) atau melintang (weft threads). Sebaliknya, benang dalam kain rajutan mengikuti jalan yang berkelok-kelok, membentuk loop simetris antara benang diatas dan dibawahnya. Loop yang berkelok-kelok ini dapat dengan mudah ditarik dalam arah yang berbeda sehingga kain rajutan lebih elastisitas daripada kain woven. Tergantung pada benang dan pola rajutan, pakaian rajutan dapat meregang sebesar 500%.
Rajutan

5. Finishing
Kain hasil tenun masih belum selesai. Kain tenunan atau rajutan yang belum selesai disebut gray goods. Selama proses manufaktur, perekat mungkin ditambahkan ke kain, atau kain mungkin datang dengan minyak dan kotoran. Oleh karena itu, semua barang gray goods harus terlebih dahulu dibersihkan. Setelah dibersihkan, kain dilewatkan pada dua piringan panas untuk menghilangkan ujung serat yang mencuat dari permukaan. Terkadang Fluorescent whitening compounds atau yang biasa disebut optical brighteners mungkin ditambahkan pada kain ketika proses bleaching kurang efektif.
Proses Mercerized bisa digunakan untuk finishing katun, linen, atau rayon. Proses ini memperlakukan kain dengan alkali untuk meningkatkan kilau dan kelembutan, memperkuat kain, dan meningkatkan kemampuannya untuk menerima pewarnaan.
Type of Finishing
5.1 Dying
Yang paling umum adalah menambahkan warna dengan cara pencelupan. Proses penyelupan dilakukan pada kain menggunakan air panas, uap atau panas kering. Metode ini ditentukan berdasarkan serat, berat, pewarnaan,
dan hasil yang diinginkan. Proses penyelupan ada tiga metode: memutar kain melalui pewarna, memutar pewarna disekitar kain, atau melakukan keduanya bersama-sama.
5.2 Printing
Desain corak dicetak pada kain seperti mencetak pada kertas. Beberapa proses finishing diterapkan untuk mencegah kerutan atau membuat kain tahan noda. Kebanyakan proses finishing bertujuan untuk estetika ,ada juga yang dipoles untuk membuat kain mengkilap. Selain itu ada juga yang berfungsi mengubah tekstur kain. Proses ini menggunakan banyak jarum kecil yang bertujuan meningkatkan permukaan kain dan menciptakan tumpukan tinggi yang memberikan efek permukaan tiga dimensi pada kain. Finishing juga bisa mempengaruhi rasa kain saat di pegang. Seperti Denim stonewashed yang diguling-guling dengan batu apung atau abrasive material lainnya. Akhirnya, semua kain dikeringkan, diperiksa, dan kemudian siap dipasarkan.

6. Blended
Kemungkinan besar kita pernah melihat model seperti ini pada pakaian kita yang menunjukkan campuran serat. Mengapa dicampur? Ada beberapa alasan termasuk kinerja, teksture, dan warna. Kinerja kain mengacu pada kualitas seperti daya tahan, ketahanan terhadap abrasi, dan serap. Ketika nilon atau polyester dicampur dengan kapas atau wol, ini akan meningkatkan daya tahan kain dan juga menjaga penampilan serat alami. Produsen juga dapat mengontrol serat kain dengan memadukan mereka bersama-sama. kain yang dicampur berfungsi untuk menciptakan tekstur yang diinginkan. Sebagai contoh, sejumlah kecil rayon dapat dicampur dengan kapas untuk memberikan kemilau kain dan menambah kelembutan.

Yah begitulah kain, mudah dipelajari tapi tetap sulit untuk dikenali apalagi untuk menentukan mana yang terbaik. Tapi semua kembali lagi pada kebutuhan dan kecocokannya. (*Lha ini ngomong kain apa jodoh ya?)

May 3, 2013

Branding

Filed under: Fashion — kometzone @ 5:18 pm

Kata kata ini selalu keluar dari mulut istri kalau sedang diskusi tentang usaha kecil kecilan yang sedang dirintisnya. Eneg juga mendengar kata-kata ini karena masih ga bisa terima dengan beberapa cara atau jalur yang ditempuh istri dan teman seperjuangannya mengenai “how to branding your product?”. Hal ini membuatku ingin lebih tahu mengenai apa itu branding. Sepintas googling, ditemui banyak artikel yang mendefinisikan dalam perspektif yang berbeda. Menurutku, e-books dari Woody G. Kim ini cukup membuatku sedikit tahu. Berikut aku coba simpulkan dari e-books tsb.

Brand Equity meliputi 4 hal:
1. Perceived quality
Persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa berkenaan dengan maksud yang diharapkan.
2. Brand awareness
Pengakuan dan pengingatan dari sebuah merek dan pembedaan dari merek yang lain yang ada di lapangan. Artinya membuat konsumen untuk mengingat suatu brand karena berbeda bila dibandingkan dengan brand lainnya.
3. Brand associations
Asosiasi ini tidak hanya eksis, namun juga memiliki suatu tingkat kekuatan. Keterikatan pada suatu merek akan lebih kuat apabila dilandasi pada banyak pengalaman atau penampakan untuk mengkomunikasikannya.
4. Brand loyalty
Merupakan ukuran kesetiaan seorang pelanggan pada sebuah merek.

Demikian seklumit dariku, mudah-mudahan kedepannya terbuka sumur pengetahuan lebih lebar untuk menimba ilmu lebih dalam.

Wassalam.

Create a free website or blog at WordPress.com.