Kometzone's Blog

April 8, 2011

Keberagaman

Filed under: Renungan — kometzone @ 2:22 pm

Kemarin aku diajakin istri nonton film “tanda tanya” by Hanung Bramantyo. Film tentang keberagaman dan toleransi di daerah Pasar Baru, Semarang. Mengangkat kisah nyata di lingkungan yang terdiri dari beberapa keluarga yang berbeda agama namun berdampingan dengan baik. Dari film ini aku jadi teringat tulisan-tulisan dari KH. A. Mustofa Bisri, KH. Abdurrahman Wahid, dan Mario Teguh.

Tulisan KH. A. Mustofa Bisri berjudul “Umat dan Perbedaan” yang di ikhtisarkan sbb:
Sejarah berulang, seiring perjalanan waktu dan berkembangnya jumlah manusia, semakin lama manusia pun kembali banyak yang lupa dan mengabaikan ketentuan-ketentuan Ilahi yang diajarkan melalui nabi-nabi nya. Ketentuan-ketentuan Ilahi yang dibawa nabi-nabi itulah kiranya yang kita istilahkan sebagai agama. Dari sisi lain, ternyata sesuai kehendak Allah, manusia tidak pernah lagi dapat menjadi umat yang satu dan memang tidak dikehendaki demikian. Seandainya Allah menghendaki niscaya dengan mudah manusia akan menjadi satu umat seperti semula.

(Q. 5: 48) “Seandainya Allah menghendaki pasti (dapat dengan mudah) ia menjadikan kamu umat yang satu; tapi Ia hendak menguji kalian tentang apa yang telah Ia berikan kepada kalian, maka berlombalah mencapai kebaikan-kebaikan. Hanya kepada Allahlah tempat kembali kalian semua, lalu Ia menceritakan mengenai apa yang pernah kalian perselisihkan.” (Baca juga misalnya, Q. 11: 118; Q. 16: 93; Q. 42: 8).

Sebenarnya, Allah sudah berkali-kali “menegur” dan “mengingatkan” kita tentang kefitrian perbedaan itu; misalnya dengan hampir selalu terjadi perbedaan dalam penetapan Idul Fitri, dengan banyaknya partai dan selalu munculnya ormas-ormas baru yang nota bene dari kelompok yang sama secara ideologi. Bahkan, kalau kita “cerdas”, sebenarnya Tuhan sudah pernah “memberi pelajaran” yang dahsyat tentang kefitrian perbedaan ini, yaitu saat menganugerahi bangsa ini dengan imam atau presiden Gus Dur yang begitu kontroversial. Padahal, sejak semula bangsa ini mempunyai semboyan Bhinika Tunggal Ika yang menyiratkan kemajemukan dan kesadaran tentang kefitrian perbedaan. Nah, kini saatnya kita “belajar” kembali tentang kefitrian perbedaan itu.

Tulisan KH. Abdurrahman Wahid berjudul “Lain Jaman, Lain Pendekatan” yang di ikhtisarkan sbb:
Kita harus saling mengingatkan, bahwa kita memiliki kewajiban agar apapun perbedaan pendirian kita, kita harus hidup bersama dalam satu ikatan. Bahwa perbedaan demi perbedaan yang ada, seharusnya mendorong munculnya sikap yang arif bijaksana, bukannya sikap yang membuat hubungan yang ada menjadi semakin buruk. Memang pada akhir-akhir ini kita melihat bahwa di lingkungan gerakan-gerakan Islam mulai muncul ‘hal-hal tidak sedap’, seperti munculnya sikap lebih keras di kalangan kaum muslimin, untuk memunculkan ‘kelebihan’ ajaran-ajaran agama Islam di atas berbagai ajaran agama-agama lain. Sebenarnya untuk memenuhi ‘kebutuhan’ akan hal itu, justru diperlukan kearifan untuk menahan diri di kalangan para pemimpin Islam sendiri. Penting memahami rumusan ajaran Islam yang sebenarnya, yaitu “Telah Ku-ciptakan kalian sebagai lelaki dan perempuan, dan Ku-jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa, untuk saling mengenal” (Inna khalaqnakum min dzakarin wa untsa wa ja’alnakum syu’uban wa qabaila li ta’arafu). Dan sikap dasar dari ketentuan Tuhan itu adalah “Dan berpeganglah kepada tali Allah secara keseluruhan, dan jangan terpecah-belah” (wa’tashimubi habli Allah jami’an wa la tafarraqu).

Sikap dasar ini juga merupakan antisipasi terhadap kenyataan akan masa depan agama Islam dan kaum muslimin, seperti telah terbukti dewasa ini yaitu Islam merupakan agama besar, tanpa mengecilkan agama-agama lain. Sikap-sikap keras yang kita lihat masih ada di kalangan kaum muslimin mudah-mudahan akan hilang melalui pendidikan yang lebih baik dan komunikasi yang lebih intens.

Tulisan KH. A. Mustofa Bisri berjudul “Dakwah itu..” yang di ikhtisarkan sbb:
Saya membayangkan, seandainya para Wali Sanga berdakwah tetapi tidak sesuai dengan tuntunan Quran dan Rasulullah, kira-kira apa saya akan mengenal dan mengikuti jalan Allah serta menikmati ajaran Islam yang mulia seperti sekarang ini? Bahkan, umat Islam di negeri kita apakah akan menjadi mayoritas seperti sekarang ini? Alhamdulillah, para dai pendahulu itu -tidak seperti banyak kalangan Islam sekarang ini- begitu sabar, telaten, dan bijaksana dalam berdakwah, mengikuti tuntunan Quran dan Rasulullah SAW. Saya membayangkan, seandainya para wali itu seperti banyak pengajak Islam masa kini yang tidak sabaran dan suka main gasak dan sikat, pastilah kita yang hidup sekarang ini masih belum mengenal Islam, apalagi Allah. Untunglah, yang ditiru para wali itu bukan tokoh-tokoh dunia yang tertindas dan *kaku ati* melihat kezaliman pihak lain yang kuat, tetapi konsisten mengikuti jejak Rasulullah SAW yang arif bijaksana.

Sesuai teladan Rasulullah SAW, mereka mengajak ke jalan Allah dengan bijaksana (bil-hikmah), menasihati dengan baik (bil-mauizhatil hasanah). Bila perlu berbantah, mereka melakukan dengan cara yang lebih baik lagi (billatie hiya ahsan). Bil-hikmah artinya melaksanakan dengan kelembutan dan memperhatikan siapa yang diajak, kemudian menyesuaikan ajakannya dengan kondisi yang diajaknya itu. Bahkan, Allah sendiri ketika mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun mendakwahi Firaun -yang tidak hanya kafir, tapi malah mengaku Tuhan- mewanti-wanti, “Waquulaalahu qaulan layyinan..” (Q. 20: 44) “Berbicaralah kalian berdua kepadanya (Firaun) dengan perkataan yang lemah-lembut“. Idealnya, orang yang mengajak orang lain, sebelumnya sudah mengajak dirinya sendiri. Orang yang mengajak ke agama kasih sayang, tetapi dia sendiri penuh kebencian, tentu saja aneh. (Anehnya, yang bersangkutan sendiri banyak yang justru tidak merasa aneh).

Tulisan dari hasil interview sufinews.com dengan Mario Teguh yang di ikhtisarkan sbb:
Dalam menjalankan tugas (baik sebagai pembicara publik maupun motivator) saya (Mario Teguh; red) menghindari komponen-komponen komunikasi yang terlalu mengindikasikan agama Islam secara formal atau verbal. Buat saya, ketika kita betul-betul dengan sadar sesadarnya mengatakan “ya !” terhadap keberadaan dan keesaan Allah (laa ilaaha illallaah; red) kita tak perlu repot-repot lagi memikirkan label-label formal ketuhanan. Pokoknya terus berlaku jujur, menjaga kerahasiaan klien, menganjurkan yang baik, menghindarkan perilaku, sikap dan pikiran buruk, saya rasa ini semua pilihan orang-orang beriman. Islam itu agama rahmat untuk semesta alam. Maksudnya jadi orang Islam mbok yang betul-betul memayungi (pemeluk) agama-agama lain. Agama kita itu sebagai agama terakhir dan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya. Agama kita puncak kesempurnaan agama. Dan karenanya kita harus tampil sebagai pembawa berita bagi semua. Kita tidak perlu mengunggul-unggulkan agama kita yang memang sudah unggul dihadapan saudara-saudara kita yang tidak seagama dengan kita. Bagaimana Islam bisa dinilai baik kalau kita selaku muslim lalu merendahkan agama (dan pemeluk) agama lain. Tuhan memberi kebebasan manusia untuk memilih diantara ketidaksamaan itu. Saya tidak akan mengatakan bahwa perbedaan itu rahmat, tapi saya akan menunjukkan Windows Operating System yang dikeluarkan Microsoft. Masih ada kan orang yang masih menggunakan Windows 95? Masih ada juga kan orang yang menggunakan Windows 98 atau Windows 2000? (* note: Aku sendiri masih make Windows XP, padahal sekarang sudah ada Windows 7). Begitu juga dengan agama-agama Tuhan, ada versi-versi yang sesuai untuk zamannya, untuk kelengkapan fikiran di zaman itu dan disana ada jenis kemampuan masing-masing orang dalam menyikapinya. Alangkah indahnya kalau semua orang Islam ketika bicara dapat diterima semua pemeluk agama lain.

Berdasarkan pengalaman, pernah beberapa peserta saya mengklaim materi yang baru saja selesai saya sampaikan menurut sudut pandang keyakinan agama mereka. Seorang peserta yang beragama Kristiani mengatakan bahwa materi saya ada juga di ajarkan dalam Injil. Peserta lain yang beragama Islam mengaku bahwa materi yang saya sampaikan ada di Al-Quran surat al-Maidah. Peserta yang Budha menganggap bahwa materi saya itu penerapan dari Dharma-dharma Budha. Saya hanya mengembalikan semua apresiasi itu kepada-Nya. Masih banyak orang yang salah faham terhadap Islam. Ada satu pengalaman yang mengherankan sekaligus membuat saya prihatin.

Dalam satu seminar di acara coffee break isteri saya didatangi salah seorang peserta penganut agama Kristen yang taat. Masih kepada isteri saya, orang itu memberi komentar bahwa saya menerapkan ajaran Injil dengan baik. Lalu dengan lembut, penuh kehati-hatian, isteri saya memberitahu bahwa saya seorang muslim. Sontak orang itu terperanjat saat mengetahui bahwa saya seorang muslim. Yang membuat isteri saya (dan kemudian juga saya) prihatin adalah ucapannya, “Loh, koq ada ya orang Islam yang baik macam Pak Mario?” Saya pun terkekeh mendengarnya. Nah ini kritik dan sekaligus menjadi tugas kita semua untuk memperbaiki citra Islam.

Kesimpulan

Apa yang di ikhtisar diatas hanyalah sebagian kecil masalah keberagaman, tetapi secara pribadi aku mencoba mengerti bahwa perbedaan itu kehendak Allah. Keberagaman itu perlu, karena dengan “beragam” kita dituntut untuk selalu belajar dan mencari tahu kebenaran sehingga didapat keyakinan yang hakiki. Perbedaan itu bukan alasan untuk berselisih, walaupun pada dasarnya “Manusia itu tidak menyukai perbedaan dan bahkan menggangap orang yang berbeda dari dirinya adalah musuh (orang yang salah)”. Mengajak ataupun merespon ajakan dengan sikap keras bukan jalan yang dianjurkan. Di Indonesia, kaum muslim ditakdirkan oleh Allah untuk hidup bersama-sama dengan orang yang berkeyakinan lain. So, apakah kejadian di Negara kita belakangan ini bisa dianggap sebagai politik adu domba bangsa lain yang berarti perjajahan terselubung? Waspadalah… Waspadalah…

Advertisements

July 23, 2009

Arti Peringatan

Filed under: Renungan — kometzone @ 2:48 pm

Kata peringatan diambil daripada perayaan karena lebih bersifat sederhana dan jauh dari sifat glamour dan mewah (menurut aku).  Tulisan ini diturunkan berkenaan dengan renungan diriku dalam masa penyusunan video sebagai kado ulang tahun nya (Happy Birthday Ola).

“Dan kelak, yang paling penting, bukan berapa lama tahun yang kamu lewati. Tetapi, bagaimana kamu menjalani kehidupanmu sepanjang tahun – tahun tersebut.” — Abraham Lincoln

Tradisi memperingati hari ulang tahun bebas dilakukan siapa saja karena hari tersebut dianggap bersejarah dalam hidup kita. Setiap tahun biasanya dirayakan dengan berbagai macam cara tergantung sifat dan keinginan masing – masing. Makna apa yang sesungguhnya diambil dalam setiap ulang tahun yang diperingati? Yang pasti, dengan bertambahnya umur maka usia berkurang dan makin mendekat kepada kematian.

Dalam suatu acara seminar, salah seorang politisi Partai Golkar,  Yusuf Sukardi, menjelaskan lima arti penting dalam memperingati hal yang bersejarah dalam kehidupan kita.
Pertama, peringatan harus merupakan cermin atau neraca perjalanan kehidupan. Artinya, dengan peringatan itu, kita dapat mengambil hikmah atas segala hal yang kita perbuat di masa yang telah lalu.
Kedua, sebagai pembangkit motivasi. Suatu peringatan harus dapat memotivasi agar berbuat lebih baik dan lebih baik lagi, serta tidak terjebak pada kesulitan yang terjadi di masa lampau.
Ketiga, sebagai alat untuk melakukan introspeksi diri.
Keempat, suatu peringatan harus dapat dijadikan titik awal penyusunan rencana selanjutnya yang lebih baik.
Dan terakhir, yang paling penting, yaitu memaknai kehidupan hari esok yang lebih baik.

Seandainya kita mau memaknai hidup ini dengan lebih baik, tentu saja kita bisa merasa bahwa waktu yang diberikan kepada kita dirasakan pendek sehingga kita berusaha untuk selalu terus berbuat baik.

February 20, 2009

Dilema Hati

Filed under: Renungan — kometzone @ 8:49 pm

Sehari setelah kau pergi Aku bisa saja sok tak peduli Seminggu berikutnya kau menghubungiku Aku masih bisa sembunyi di balik senyum palsu  Hari hari berikutnya telah terlewati Kesibukan diri membuat semua jadi basi Bulan bulan itu juga telah berlalu Teman silih berganti menghibur aku  Setahun akhirnya terlewati Beranggap semua teratasi Tapi ternyata cerita belum berakhir Kau mencoba kembali hadir  Aku gak tau maksudnya apa? Dia cuma bertanya apakabarnya? Ternyata dia membawa masalah Tapi dia bisa juga sok berkilah  Sekarang aku telah menyadari Dia datang lagi untuk menutup cerita Mencoba untuk menyakiti hati Membuat diriku akhirnya menderita  betapa hancurnya hatiku .. betapa hancurnya jiwa.. tolong bantu diriku.. melewati ini semua.. puas sudah dirimu.. membuatku serasa dilema.. ucap selamat untukmu.. terima kasih cinta..  na.. na.. na.. ha.. ha.. ha..

January 10, 2009

Embun Pagi

Filed under: Renungan — kometzone @ 8:50 pm

Dia datang menyambut pagi di setiap dedaunan dan bunga-bunga. Dia memberikan kesejukan dan kesegaran bagi dunia ini. Perhatikan dari dekat sebutir embun pagi yang melekat pada sebuah daun, pada akhirnya dia akan jatuh ke tanah dan menghilang. Embun itu seperti merelakan diri untuk jatuh ke tanah, bertemu dengan permukaan yang keras dan berdebu. Embun ini sepertinya mengajarkan kita suatu kearifan untuk hidup bukan dengan logika memiliki tapi dengan mengabdi dan memberi

December 27, 2008

Karma

Filed under: Renungan — kometzone @ 8:48 pm

Menilik pernyataan temen aku di tulisan sebelumnya mengenai karma, jadi ingat pula diskusi aku dengan teman minggu lalu dalam sebuah perjalanan pulang mengenai keadilan Allah. “KARMA”, yah apapun orang menyebutnya tapi aku selalu menganggap bahwa itulah keadilan Allah. Tuhan Maha Adil, secara akademik tak seorangpun yang menolak, tetapi banyak pula yang diam-diam mempertanyakan keadilan Tuhan. Pembicaraan tentang keadilan Tuhan bukanlah hal baru. Persoalan ini hadir sejak manusia mengenal baik buruk. Segala hal yang datang dari Tuhan itu pastilah kebaikan, karena dialah yang membuat segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Boleh jadi engkau membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi engkau menyenangi sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui. Keburukan itu ada hanya karena keterbatasan pandangan manusia saja. Segala sesuatu sebenarnya tidak buruk, tetapi nalar manusia yang terbatas itulah yang mengiranya buruk. Nalar tidak dapat menembus semua dimensi.Renungkan pula bagaimana proses yang mengantar manusia (dan makhluk lain) pada kebahagiaan, ternyata di sana ada pihak yang harus menjadi korban. Pengorbanan itu merupakan syarat kesempurnaan jenis makhluk, termasuk manusia. Korban (yang mengalami “keburukan”) harus ada demi mewujudnya kebaikan dan keindahan. Suatu bahaya yang mencekam ternyata melahirkan keindahan berupa munculnya orang-orang pemberani yang berhasil mengusir bahaya itu. Pengalaman menderita sakit parah ternyata bisa mendatangkan rasa keindahan, yakni ketika merasakan betapa nikmatnya kesehatan. Nah, siapa yang harus mengalami semuanya itu jika bukan makhluk?. Jika penderitaan itu terjadi karena kesalahan, maka hal itu sudah setimpal dengan ulahnya, sedangkan jika seseorang tidak bersalah tetapi menjadi korban, maka pengorbanan manusia akan dibalas oleh Allah dengan ketinggian derajat di akhirat. Dapat disimpulkan bahwa untuk memahami tujuan keberadaan dirinya, manusia harus bekerjasama memikul bencana. Tanpa memahami kerjasama itu maka manusia tidak akan mampu memahami makna kehadirannya sebagai manusia. Persoalan keadilan Tuhan memang bukan problem nalar, tetapi problem rasa, sebagai akibat dari keinginana manusia untuk selalu mendapatkan yang terbaik untuk dirinya.Disinilah agama dan keyakinan berperan besar. Wallohu a`lam bissawab.

December 20, 2008

Judgement

Filed under: Renungan — kometzone @ 8:47 pm

Kemaren malem aku chat ama temen yang katanya lagi patah hati. Dia men-judge cowoknya brengsek dan dia mencibir dengan berkata “emang dia ga tau apa kalo ada karma?”. Disini aku tidak ingin membahas masalah dia, yang ingin aku bahas lebih mengenai kenapa orang (termasuk aku) suka menilai apalagi men-judge bahwa aku lebih baik dari dia? Apa bedanya seseorang yang dalam hatinya berbisik men-judge buruk orang lain melalui kaca mata dirinya yang mungkin berbeda karena nilai-nilai yang dianut orang lain itu berbeda dengan nilai yang dirinya anut? kecuali demi satu keuntungan yaitu niat buruk yang terpendam dalam hatinya. Entah Anda setuju atau tidak?

“Seorang terpelajar seharusnya mampu berlaku adil sejak dalam pikiran…”.
(Pramoedya Ananta Toer).

Alangkah indah jika kita mau menjadi hakim pada diri kita sendiri sebelum kita menghakimi orang lain karena tujuan sebenarnya yang kita cari adalah sebuah kebenaran dan bukan suatu pembenaran.

November 15, 2008

Optimisme

Filed under: Renungan — kometzone @ 8:46 pm

A person is limited only by the thoughts that he chooses (Kapasitas seseorang dibatasi oleh pemikirannya sendiri) “James Allen ~ As A Man Thinketh”

Optimis adalah syarat penting untuk dapat bertumbuh optimal dari kondisi kita saat ini. Langkah selanjutnya yang tak kalah penting agar kita bertumbuh secara fenomenal adalah menciptakan impian. Ketika kita sudah berani bermimpi, maka rasa percaya diri akan tumbuh dan lebih siap menghadapi tantangan. Selanjutnya impian tersebut membantu kita berpikir lebih positif, sehingga kita dapat menikmati proses perubahan menuju pertumbuhan. Langkah penting lainnya adalah memahami diri sendiri dan impian yang ingin dicapai. Pemahaman akan diri sendiri dan impian merupakan landasan untuk menempatkan prioritas dan fokus. Selain itu, pemahaman terhadap terhadap diri sendiri dan tujuan juga sangat memengaruhi rasa percaya diri dan keyakinan untuk bertumbuh tanpa batas. Sementara itu, kita juga harus berusaha meningkatkan kemampuan. Sebab jika kemampuan kita lebih baik, maka kita juga pasti dapat melaksanakan pekerjaan dengan lebih baik untuk mencapai tujuan itu. Karenanya, dedikasikan diri untuk terus belajar.

If you are aware of your weakness and are constantly learning, your potential is virtually limitless. You can build something that will be a legacy. (Jika Anda paham kekurangan yang Anda miliki dan berusaha belajar terus menerus, sebenarnya potensi Anda itu hampir tidak terbatas. Anda dapat membangun sesuatu yang dapat diwariskan)”Jay Sidhu

Haste in every business brings failure.(Sikap terburu-buru dalam urusan apapun menyebabkan kegagalan)” Â ~ Herodotus”

Kiranya langkah yang tidak kalah penting adalah tetap bersabar dan berprasangka positif terhadap apa pun hasil yang dapat kita capai. Jangan berharap terjadi perubahan dramatis dalam waktu singkat. Efek positif sekecil apa pun tetapi berkelanjutan pasti lebih baik dibandingkan tidak memulai satu langkahpun hari ini. Jika kita tetap kreatif memanfaatkan waktu dari hari ke hari, terutama untuk meningkatkan kemampuan dan memfokuskan energi demi mewujudkan impian, percayalah bahwa suatu saat kita pasti dapat mengoptimalkan potensi diri.

November 6, 2008

Masalah

Filed under: Renungan — kometzone @ 8:45 pm

Setiap orang pasti punya masalah. Setiap hari kita pasti berhadapan dengan masalah, bisa kita yang dapat masalah, bisa kita yang buat masalah, bahkan bisa jadi kita ini sumber masalahnya. Masalah terbesar adalah kalau kita tidak tahu ada masalah atau kita merasa tidak punya masalah.
“Masalah” dalam bahasa yunani adalah “proballein”, kalo ditilik lebih jauh bermakna positif.”pro” berarti maju, sedang “ballein” berarti bergerak. jadi sebenarnya masalah adalah sebuah kesempatan untuk maju dan berkembang.Dengan seringnya seseorang berjumpa dengan masalah, dan orang tersebut dapat mengambil setiap hikmah dari masalahah yang dihadapi, maka dia akan lebih berkembang dan bisa lebih maju.
Sample case, pengalaman lebih diutamakan saat perusahaan mencari pekerja.Kenapa berpengalaman? karena kata pengalaman berarti orang yang telah melewati berbagai macam masalah, dan berhasil menghadapainya. Banyak orang yang menjadi tangguh, luar biasa atau pun hebat ketika dia berhasil mengatasi atau menyelesaikan suatu masalah, maka orang ini akan disebut mempunyai pengalaman. Orang yang mempunyai pengalaman akan bernilai jual tinggi.
Anda akan senang untuk berdiskusi dengan seorang yang bijak bukan? Bagaimana orang tersebut bisa menjadi bijak, karena dia bisa mengatasi dan menyelesaikan semua permasalahannya. Orang bijak sangat di hormati orang, jadi orang yang mempunyai masalah berpotensi untuk jadi orang yang di hormati jika siap menghadapi dan mampu menyelesaikannya.
Masalah yang kita hadapi sebenarnya menunjukkan “level” kita. Siapa diri kita sebanding dengan masalah yang kita hadapi. Tuhan tidak akan memberikan cobaan melampaui kekuatan kita untuk mengatasinya, dan setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Cobalah kita akrab dengan masalah, karena itu akan membuat kita lebih kuat dan bertahan. Masalah bisa jadi salah satu hal yang bisa memotivasi kita. Masalah juga bisa diartikan sebagai ujian. Kenyataan bahwa emas yang indah berawal dari gumpalan batu yang dipukul, dibelah, dipanaskan, ditempa. Santan putih bersih yang berasal dari kelapa yang dijatuhkan, dijambak, dibelah, diparut, diremas. Itulah ujian, itulah masalah.
“Masalah sebenarnya guru sejati yang seringkali kita abaikan” Tanpa terasa kita sudah belajar mengatasi banyak masalah, tapi banyak yang tidak ingat itu semua. Kita pernah bingung dan stres dibuatnya, tapi kenyataannya kita dapat melaluinya. Atau malah mungkin sudah lupa terhadapnya. Tak satupun manusia jika ditanya menginginkan sebuah masalah terjadi didepan matanya. Semua pasti menginginkan yang indah dan kehidupan yang normal-normal saja. Tapi manusia hidup tak luput dari permasalahan.
“Masalah tidak untuk dihindari tetapi untuk diselesaikan, semakin banyak masalah yang bisa kita selesaikan, semakin tinggi nilai diri kita” Semoga kita selalu siap dan berhasil dalam menyelesaikan setiap masalah. Saya siap menghadapi masalah, karena itulah sebuah kesempatan untuk membuat saya lebih baik.

September 30, 2008

Citra diri

Filed under: Renungan — kometzone @ 8:43 pm

merupakan salah satu unsur penting untuk menunjukan siapa diri kita sebenarnya. Ia juga merupakan konsep diri tentang individu (Maxwell Maltz dalam Ranjit Singh Malhi,2005, Enhancing Personal Quality). Citra diri seseorang terbentuk dari perjalanan pengalaman masa lalu, keberhasilan dan kegagalan, pengetahuan yang dimilikinya, dan bagaimana orang lain telah menilainya secara obyektif. Apa yang kita kenakan, apa yang kita katakan, apa yang kita kerjakan, dan apa yang menjadi prinsip hidup kita, semua hal ini membentuk citra diri kita. Beruntunglah orang yang memiliki citra baik.

September 9, 2008

Gengsi

Filed under: Renungan — kometzone @ 8:42 pm

Menurut teori, orang senang bergengsi jika tujuan tidak jelas, padahal sarananya tersedia. Untuk menutupi kekurangannya, berupa kurangnya konsep dalam pemikiran, digunakanlah gengsi. Teori ini berbunyi, kalau orang tidak mempunyai tujuan yang jelas, tetapi sarananya tersedia, timbul apa yang disebut ritualisme, yaitu upacara-upacara demi gengsi untuk menyelubungi kekurangan percaya diri. jadi orang yang mengjar gengsi pada umumnya adalah orang yang tidak memiliki kepercayaan diri.  Gengsi ini bagaikan baju yang selalu melekat pada diri, kita susah lepas dari yang namanya gengsi. Banyak energi dan uang yang terhambur tanpa guna hanya demi gengsi yang tak bisa dikejar. Gengsi cenderung terus mendaki dan tak mau disaingi. Sekali kita menempatkan diri sebagai budak gengsi, maka tiket perburuan menuju puncak gengsi akan terus menjajah kita. Dan tiket itu tak mudah, juga tak murah. Sudah banyak yang akhirnya menyerah meski hati belum puas; sisa hidupnya menjadi neraka dan mereka pun tersudut di pojokan rasa malu yang luar biasa.

Next Page »

Blog at WordPress.com.